Bahan Pastoral Konseling by Salmon

Silabus Kuliah  : KONSELING PASTORAL

Masa Kuliah    : 17-19 September 2008

Dosen              : Salmon Ngesthi

Penjelasan :

Perkuliahan ini membicarakan pengertian dari konseling pastoral dan bagian-bagian yang terkait di dalamnya, berdasarkan prinsip Alkitab dengan mempertimbangkan informasi ilmu-ilmu sosial seperti psikologi, sosiologi. Konseling pastoral bersifat komprehensif mencakup pelayanan manusia seutuhnya (cura animarum – tubuh,jiwa dan roh).

Standar Kompetensi :

Melalui keseluruhan kegiatan belajar, diharapkan setiap peserta mampu memahami konseling pastoral secara keseluruhan dan mampu menerapkan konseling pastoral di dalam gereja yang Tuhan percayakan kepada peserta.

Ruang Lingkup

Mata Kuliah ini akan membahas :

1.       Definisi dari Konseling Pastoral secara keseluruhan

2.       Ruang Lingkup Konseling Pastoral

3.       Fungsi-fungsi Pelayanan Pastoral

4.       Peta Pelayanan Pastoral pada umumnya

Metode kegiatan dan Penilaian :

1.       Partisipasi Aktif —– 15%

Setiap peserta (kelompok 2 orang), mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat, pengalaman, kegiatan yang terkait dengan konseling pastoral. Anda dapat memilih salah satu dari alternatif ini.

a.      Mengemukakan  hasil studi Alkitab (biografis, tekstual) terkait dengan masalah konseling pastoral

b.      Menjelaskan sejumlah kasus nyata terkait dengan masalah konseling pastoral. Bagaimana tanggapan Anda sendiri dalam terang Firman Tuhan?

c.      Mengelola aktivitas permainan atau simulasi singkat berkaitan dengan konseling pastoral.

2.       Perkuliahan. Dalam perkuliahan ini berlangsung tanya jawab, diskusi kelompok dan berbagai pengalaman, dalam rangka meresponi bahan kuliah.

3.       Tulisan Reflektif —– 20%

Setiap peserta diminta menuliskan pengalaman hidupnya terkait dengan tujuan hidup yang harus dimiliki seorang konselor (1-2 halaman).

4.       Tinjauan Buku —- 25%

A.     Wajib : Buat sebuah tugas penyimpul dengan menyoroti fungsi-fungsi pastoral dari salah satu surat Pastoral (I,II Timotius dan Titus) serta implikasinya bagi pelayanan pastoral dewasa ini.

B.      Pilihan :  Abineno,J.L.Ch., Pedoman Praktis untuk Pelayanan Pastoral (BPK GM:Jakarta,2000); Hiltner, Seward, Preface to Pastoral Theology (Abingdon Press: New York,1953); Brister, C.W., Pastoral Care in the Church (Harper:San Fransisco,1992).

C.     Cara Kerja :

1.       Baca keseluruhan buku secara lebih detail bab-bab yang Anda pandang amat berarti

2.       Kutiplah kalimat-kalimat penting dari buku itu

3.       Kemukakan apa manfaat membaca buku itu bagi Anda dan bagi orang lain

4.       Tuliskan laporan untuk tiap buku dalam 3-4 halaman, 1,5 spasi

5.       Periksa kalimat-kalimat Anda sebelum menyerahkan kepada dosen, karena redaksi dan penulisan mempengaruhi penilaian. Artinya, jangan asal mengerjakan tugas! Kembangkanlah ketelitian

6.       Serahkan paling lambat Awal Februari 2009

5.       Proyek Khusus —- 20%

Setelah mengikuti perkulihan Anda terdorong untuk mengusulkan sesuatu dalam pelayanan pastoral di gereja masing-masing.  Karena itu  kemukakan salah satu peta pelayanan pastoral di gereja Anda, kemukakan keuntungan dan kerugiannya serta usulan perbaikannya (3-4 halaman, 1,5 spasi, serahkan paling lambat Akhir Februari 2009).

6.       Ujian singkat di akhir kuliah (UAS) —- 20%

Kepustakaan :

1.       Hiltner, Seward. Preface to Pastoral Theology (Abingdon Press:New York,1953).

2.       Hommes,Tjaard G & E. Gerrit Singgih (ed). Teologi dan Praksis Pastoral (Kanisius-BPK GM: Yogyakarta-Jakarta:1994).

3.       Brister, C.W. Pastoral Care in the Church (Harper:San Fransisco,1992).

Catatan :

a.      Kirimkanlah tugas Anda dengan melampirkan perangko pengembalian, supaya dapat saya kembalikan kepada Anda.

b.      Hubungi dosen jika ada kesulitan. Telpon rumah (0295) 5504461, HP. 085861487531

 

RUANG LINGKUP KONSELING PASTORAL.

Anton Boisen adalah pelopor pelayanan konseling dari AS. Dengan memprioritaskan studi pada pengalaman religius yang konkrit, Boisen ingin menyingkapkan pertaliannya dengan psikologi agama yang lahir pada awal abad ke 20. meskipun beberapa tahun kemudian Boisen mengkritik keterlibatan para pengikutnya di dalam psikoanalisis dan psikoterapi sekuler. Bagi Boisen, penyembuhan batin harus secara fundamental dilaksanakan dengan bahan mentah “pengalaman religius”.

Menurut Ch. V. Verkin, konseling pastoral dalam bentuk yang muncul pada akhir abad 20 telah membangun sebagian besar model refleksi utamanya secara operasional berdasarkan citra, konsep, pengandaian, dan asumsi-asumsi ontologism dari psikologi, sosiolagi, dan antropologi. Hal ini berlangsung sedemikian rupa sehingga membahayakan, di mana pertalian hidip antara iman Kristen yang histories dan praktik  konseling pastoral akan terputus. Bila hal ini terjadi maka dunia persepsi, konsepsi dan makna di mana konseling pastoral melaksanakan tugasnya akan menjadi dunia yang dikosongkan dari bahasa religius, citra iman, keselamatan, dosa dan penebusan. Dalam kaitan itu Thomas Oden mengingatkan bahwa kita dibanjiri oleh literature pastoral konseling yang dalam prakteknya telah kehilangan identitas pastoralnya, karena hanya menaruh sedikit perhatian terhadap model klasik dari care of souls (cura animarum).

Walaupun demikian, G. Heitink menandaskan bahwa kita perlu bersyukur pada sumbangan wawasan yang dicapai oleh gerakan pendampingan pastoral (pastoral care) dan konseling pastoral di AS. Dalam pendekatan korelasi kita temukan banyak harmoni antara pertanyaan manusia dengan jawaban Alkitab. Mungkin kadang-kadang ada proses psikologisasi pandangan teologis, khususnya bila diamati kata-kata kunci seperti : kasih, harapan dan kebebasan. Meskipun kata-kata itu sering diberi arti yang berbeda, tetapi istilah-istilah itu sangat penting bagi konseling.

David G. Benner dalam bukunya, Strategic Pastoral Counseling mengatakan bahwa konseling pastoral (pastoral counseling) merupakan bagian dari pendampingan pastoral (pastoral care) yang merupakan tanggung jawab pelayanan pastoral (pastoral ministry). Ia melukiskan kaitan atau batas antara pelayanan pastoral (pastoral ministry), pendampingan pastoral (pastoral care) dan konseling pastoral (pastoral counseling) sebagai berikut :

Pastoral Ministry

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pastoral Ministry

Pastoral Care

 

 

 

 

 

Pastoral Care

Pastoral Counseling

 

 

 

 

 

 

 

a)      Pastoral ministry (pelayanan pastoral), mencakup konteks yang lebih luas dari konseling pastoral, yang meliputi fungsi-fungsi utama : berkhotbah, mengajar, memimpin ibadah, kepemimpinan jemaat administrasi, perhatian pastoral dan konseling. Meskipun demikian pembatasan antara pelayanan pastoral (Pastoral ministry).

b)      Pastoral care (pendampingan pastoral) : adalah seluruh lingkup kontak pertolongan yang terjadi antara pastor dan anggota jemaatnya, yang meliputi aktifitas pelayanan yang tak terbatas seperti : kunjungan kepada orang sakit, memperhatikan kepada yang meninggal dunia, menghibur yang mengalami kehilangan, tradisi sakramen dan menetapkan sakramen.

 

Berdasarkan tradisi yang berpusat pada pelayanan seorang pastor, muncullah beragam definisi tentang pendampingan pastoral. Ketegangan terjadi ketika menyinggung penggunaan psikologi dan psikoterapi dalam pendampingan pastoral. Para teolog dari Eropa umumnya lebih konservatif menekankan pada unsur hakiki pelayanan seorang pastor. Eduard Thurneysen menegaskan, pastoral care is remains proclamation of Word to the individual and neither can nor should ever by anything else. Ia mengingatkan bahwa sebagai pelayan pastoral kita berupaya  merefleksikan akar dari bagian dalam kehidupan manusia (inner life of man). Namun beberapa teolog pastoral telah mengalami penetrasi ilmu pengetahuan terutama yang dilakukan oleh psikologi. Hal ini serta merta menantang kita untuk mengeksplorasi relasi antara psikologi dan pendampingan pastoral. Ia menandaskan bahwa pelayanan pastoral adalah satu disiplin yang tak dapat digantikan, karena berbeda dari psikologi dan psikoterapi. Pelayanan pastoral membutuhkan psikologi sebagai tambahan yang memang penting.

Pendampingan pastoral (pastoral care) menurut G. Heitink adalah suatu profesi pertolongan; seorang pendeta atau pastor mengikatkan diri dalam hubungan pertolongan dengan orang lain, agar dengan terang Injil dan persekutuan dengan gereja Kristus dapat bersama-sama menemukan jalan keluar bagi pergumulan dan persoalan kehidupan iman.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Abineno mengatakan bahwa banyak orang karena rupa-rupa sebab hidup dalam situasi yang sulit. Persoalan itu kadang-kadang begitu rumit sehingga mereka hampIr putus asa. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena itu para ahli teologi pastoral mengusulkan bantuan-bantuan berikut :

1.          Berusaha membantu jemaat dengan perkataan, perbuatan, supaya pergumulan dan penderitaan mereka tidak bertambah berat.

2.          Berusaha menghibur dan menguatkan mereka kalau mereka terbuka menerima bantuan itu.

3.          Berusaha memobilisasi dan ‘menyusun kembali’ tenaga mereka yang masih ada, supaya mereka dapat menghadapi persoalan-persoalan mereka.

4.          Membantu mereka supaya dapat memulai lagi suatu hidup yang baru dalam situasi baru, di mana sekarang berada.

 

Berdasarkan uraian di atas, agaknya terdapat persinggungan yang begitu tipis antara pengertian pendampingan pastoral dan konseling pastoral. Kendati begitu bahwa seorang pelayan yang berkecimpung di bidang ini harus pula memiliki pemahaman teologis yang dalam.

c. Pastoral counseling (konseling pastoral) acapkali tidak jelas, sehingga untuk memahaminya maka ketiga unsur ini harus dilihat sebagai suatu kesatuan. Sebagaimana pelayanan pastoral bersinggungan dengan pendampingan pastoral, demikian pula pendampingan pastoral bersinggungan langsung dengan konseling pastoral. Menurut Van Beek, konseling pastoral pada hakekatnya dipandang sebagai suatu proses pertolongan rohani. Ini berarti yang ditekankan adalah pastoralnya. Sedangkan konseling dalam pengertian bahasa Yunani maupun Ibrani yang diartikan ke dalam bahasa Inggris ‘counseling’ berarti memberi nasehat, menghibur, memperingatkan. Jadi konseling adalah proses pertolongan yang pada hakekatnya bersifat psikologis antara seorang penolong dengan seorang/beberapa orang yang ditolong dengan maksud meringankan penderitaan yang dialaminya. Melalui pertolongan itu konseli dapat memperoleh wawasan baru untuk memahami dan jika mungkin mengatasi persoalan yang dihadapinya. Jadi dapat dikatakan bahwa konseling pastoral adalah konseling plus pastoral yang cakupannya lebih luas dari konseling. Karena yang memang disumbangkan oleh pastoral terhadap konseling adalah dimensi-dimensi spiritual dan suatu perspekti menyeluruh.

C.W. Brister menegaskan bahwa konseling pastoral dibedakan dari konseling lainnya (edukasional, psikologis, medis, dll.,) karena dasar konstekstualnya terletak pada asumsi dan orientasinya yang religius. Meskipun menggunakan prinsip-prinsip umum yang sama dengan konselor profesional lainnya, pelayanannya secara umum dibangun atas dasar teologis biblical dan menaruh perhatian yang besar dalam pengharapan Kristen..

J.L. Ch Abineno mengatakan bahwa  :

a.  Konseling pastoral adalah suatu proses, yang berusaha memecahkan persoalan oleh relasi antara pastor dan anggota jemaat.

b.  Pastor, yang menjalankan konseling pastoral adalah penolong bagi anggota jemaat yang ia gembalakan.

c.   Bantuannya berlangsung dalam bentuk percakapan.

d. Dalam percakapan itu pastor membantu supaya anggota jemaat dapat melihat persoalannya dengan jelas dan menerimanya sebagai persoalannya sendiri.

e.  Tujuan akhir konseling pastoral ialah supaya oleh bantuan pastor, anggota jemaat dapat menolong dirinya sendiri.

 

Lebih jauh C.W. Brister menegaskan bahwa kekuatan konseling pastoral harus diukur berdasarkan kapasitasnya untuk menolong orang menemukan uniknya arti kehidupan (ultimate meaning) di tengah-tengah eksistensi temporal. Charles E. Brown melakukan investigasi terhadap pendapat pasien-pasien yang mengalami gangguan kejiwaan  dan konselor-konselor pastoral mereka. Ia mengamati bahwa intervensi yang dihadapi oleh para penolong bukanlah menyepelekan masa lalu klien, tetapi tentang masa depan mereka (akhir zaman), terbukti sangatlah menolong. Ia mengatakan, eksistensi otentik adalah eksistensi eskatologis yang jelas. Eksistensi dicirikan oleh penerimaan masa lalu, menyingkapkan masa kini serta komitmen terhadap masa depan. Brown dan rekan-rekannya menemukan kekuatan eksistensi masa depanlah yang memungkinkan kesembuhan mereka. Hal senada dikemukakan oleh Wayne E. Oates bahwa konseling pastoral mempunyai peranan secara eksplisit maupun implisit di dalam kelimpahan kehidupan kekal sebagaimana kita kenal dalam Kristus Yesus. Cara hidup yang kita ketahui di masa lampau, menentukan perubahan cara hidup yang membawa kita hidup di masa kini, serta pertimbangan terhadap masa depan dan akhir kita menjadi fokus percakapan pastoral yang dikenal sebagai konseling pastoral.

APA ITU PASTORAL KONSELING?

Definisi Secara keseluruhan :

Pastoral Konseling adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationaship) antara hamba Tuhan (pendeta, penginjil, dsb.) sebagai konselor dengan konselenya (klien, orang yang minta bimbingan), dalam mana konselor mencoba membimbing konselenya ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang ideal (condusive atmosphere) yang memungkinkan konsele itu betul-betul dapat mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, persoalannya, kondisi hidupnya di mana ia berada, dsb; sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya.

Berdasarkan definisi di atas kita bisa melihat paling tidak ada empat aspek penting yang harus dikenal oleh setiap konselor (hamba Tuhan), yaitu:

a.                       Hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara konselor dengan konselenya.

b.                       Hamba Tuhan sebagai konselor.

c.                       Suasana percakapan konseling yang ideal (condusive atmosphere).

d.                      Melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan padanya.

 

HUBUNGAN TIMBAL BALIK (INTERPERSONAL RELATIONSHIP) ANTARA PENDETA DAN KONSELENYA.

Pastoral Konseling adalah suatu interpersonal relationship, suatu dialog (dan bukan monolog) yang terjadi antara pendeta dan konselenya, yang bisa melibatkan, seluruh aspek kehidupan mereka masing-masing. Sebagai konselor, pendeta tidak hadir sebagai pengkotbah di atas mimbar yang memberikan firman Tuhan, nasihat, teguran, dan ajaran pada konselenya; karena ia sekarang berhadapan muka dengan konselenya sebagai dua pribadi yang utuh, yang masing- masing punya hak (dan kebebasan) untuk mengekspresikan dirinya.

“Kenapa” hubungan timbal balik ini harus merupakan suatu dialog ?.

Pertama, oleh karena role (peran) seorang konselor tidak sama dengan role seorang pengkhotbah. Sebagai pengkotbah, seorang hamba Tuhan membawa role yang lebih cenderung pada role Nabi yang memberitakan firman Tuhan. Secara praktis ia adalah seorang mediator (pada saat berada di atas mimbar antara Allah dan umat-Nya. Oleh sebab itu, kata-kata dan pidato yang ia sampaikan dari atas mimbar boleh (bahkan seharusnya) diterima sebagai firman Tuhan sendiri. Jemaat adalah penerima khotbahnya yang ia persiapkan dengan kepercayaan bahwa itulah yang dibutuhkan oleh mereka.

Kedua, oleh karena sebagai konselor, hamba Tuhan menyadari bahwa satu-satunya kemungkinan untuk membawa percakapan konseling itu pada suasana percakapan yang ideal (condusive atmosphere) adalah jika konsele betul-betul merasa diperlakukan sebagai satu subyek, pribadi yang utuh yang persoalannya, perasaannya, cara berpikirnya bahkan segala sesuatu yang ada padanya mempunyai nilai untuk dihargai.

Hal-hal “apa” yang perlu diperhatikan konselor dalam hubungan timbal balik ini.

1. Sikap merugikan dari pihak konsele.

Dalam hubungan interpersonal relationship, konselor mesti menyadari adanya berbagai kemungkinan yang merugikan, ditimbulkan oleh sikap konsele terhadap konselornya.

a.    Dalam hubungan dengan “simbol Allah” (symbol of God) yang melekat pada hamba Tuhan.  Hamba Tuhan, siapa pun mereka, adalah pembawa simbol Allah. Tipe pelayanannya (sering berdiri di atas mimbar dengan membawakan “firman Allah”), pakaian, dan alat-alat pelayanan yang dipakai, telah menyebabkan sebagian besar jemaat memandang hamba Tuhan tidak seperti manusia pada umumnya.  Oleh sebab itu, setiap kali mereka bertemu dengan orang-orang yang mempunyai otoritas (authority figures), mereka secara otomatis cenderung untuk menhidupkan sikap penyerahan diri secara total (total dependency) pada orang itu. Selama konsele melihat hamba Tuhan (konsele) sebagai pembawa simbol Allah (yang setiap katanya diterima sebagai firman Allah yang mutlak benar), maka proses konseling itu menuju pada arah yang tidak sehat.

b. Dalam hubungan dengan gejala “transference” (pemindahan perasaan) dalam setiap interpersonal relationship (hubungan timbal balik) antara dua pribadi.

Transference adalah istilah psikologis untuk menunjuk pada gejala pemindahan perasaan dari yang seharusnya ditujukan pada obyek lain pada masa lampau kepada obyek yang baru pada masa kini. Transference adalah gejala yang tidak mungkin dihindari yang pasti akan terjadi dalam setiap interpersonal relationship antara dua pribadi. Oleh sebab itu transference pasti akan terjadi dalam proses konseling di antara konsele dan konselornya.

Seperti yang dikatakan Sigmund Freud,

Sebagai gejala dari alam ketidaksadaran (unconsciousness), transference terjadi mula-mula oleh karena adanya banyak kebutuhan pada masa lampau yang tidak atau belum terpenuhi, yang terpaksa ditekan untuk dilupakan (repressed). Kebutuhan-kebutuhan itu (yang sebagian besar timbul dalam hubungan dengan orang tua) bisa positif bisa negatif, bisa merupakan kebutuhan untuk mengasihi dan dikasihi maupun kebutuhan untuk melampiaskan kebencian, kemarahan, dsb.

E.M. Rosenweig mengatakan,

Kebutuhan-kebutuhan itu (oleh karena belum terpenuhi dan terpuaskan) akan selalu mencari kesempatan (sebagai rangsangan insting) untuk dipenuhi. Dan transference adalah salah satu jalan yang secara natural dimiliki oleh setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tadi. Dalam setiap interpersonal relationship dengan orang lain, pasti terjadi suatu gejala transference, gejala pemindahan perasaan(yang sebagian besar tidak disadari) yang arahnya adalah pemenuhan kebutuhan yang belum terpenuhi pada masa lampau. Begitu juga dalam hubungan antar konsele dan konselor, gejala transference ini pun pasti terjadi. Konselor harus menyadari bahwa dalam interpersonal relationship itu pasti ada hal-hal dari dirinya sendiri (entah wajahnya, pandangan matanya, suaranya, mode rambutnya, pakaiannya, cara berbicaranya, dsb.), yang menstimulir proses terjadinya gejala transference. Dan sikap dari konsele terhadap konselor sebagian besar terjadi oleh karena gejala transference itu. Kegagalan konselor untuk mengatasi atau mengontrol gejala tranference adalah permulaan kegagalan proses konseling itu sendiri.

2. Dorongan yang merugikan dari dalam diri konselor sendiri

Dalam interpersonal relationship itu, konselor sendiri mesti waspada terhadap dorongan dan rangsangan, yang sering kali timbul justru dari dalam dirinya sendiri, yang bisa menjadi penyebab kegagalan pelayanan konselingnya.

PERTAMA, ialah kebutuhan untuk melakukan counter-transference.

Counter-transference adalah istilah psikologis yang artinya tidak lain daripada sikap menyambut dan menanggapi gejala tranference dari konsele yang ditujukan padanya. Dan sebab yang terutama ialah oleh karena sebagai manusia biasa, hamba Tuhan (konselor) juga punya banyak persoalan dan banyak kebutuhan (positif maupun negatif) yang tidak atau belum terpenuhi. Kegagalan proses konseling dialami oleh banyak hamba Tuhan oleh karena ia tidak menyadari akan gejala counter-transference dari dirinya sendiri. Sebagai konselor seharusnya hamba Tuhan bersikap betul-betul netral, mampu mengontrol emosinya dan tidak membiarkan sikapnya dipengaruhi oleh sikap (yang biasanya merupakan gejala transference) dari konselenya. Seperti yang dikatakan Karl Meninger, hendaknya ia selalu waspada terhadap kebutuhannya sendiri untuk melakukan counter-transference, yang bisa mengambil salah satu bentuk dari duabelas sikap tidak sehat di bawah ini:

1.     Carelessness in appointment schedules. (Tidak menepati janji dan semaunya sendiri dalam memakai waktu yang tersedia).

2.     Repeated erotic or hostile feelings. (Munculnya perasaan berahi atau sebaliknya, yaitu benci kepada konsele).

3.     Boredom or inattention during counseling. (Munculnya perasaan bosan selama proses pembimbingan).

4.     Permitting or encouraging misbehavior. (Membiarkan sikap dan tingkah laku yang tidak seharusnya terjadi).

5.     Trying to impress the parishioner. (Selalu ada keinginan untuk menyenangkan konsele).

6.      Arguing. (Berdebat).

7.     Taking sides in a personal conflict. (Memihak dalam konflik yang dihadapi konsele).

8.     Premature reassurance to lessen anxiety. (Memberikan janji-janji dan jaminan-jaminan pada konsele yang terlalu dini untuk mensukseskan kelanjutan pembimbingan).

9.     Dreaming about parishioner. (Terbayang-bayang wajah konsele).

10. Feeling that the parishioner’s welfare or solution to a problem lies solely with you. (Merasa bahwa hidup dan penyelesaian persoalan seluruhnya tergantung pada kita).

11. Behavior toward one parishioner in a group differently from other group members. (Sikap membedakan dari anggota yang satu dengan yang lain dalam gereja yang kita gembalakan).

12. Making unusual appointments or behaving in a manner unusual for you. (Membuat janji-janji pertemuan yang tidak biasa dengan konsele dan bersikap tidak wajar). (Theory of Psychoanalitic Technique, Basic Books, New York, 1958, footnote 5).

Hamba Tuhan harus selalu waspada terhadap kebutuhannya sendiri untuk melakukan counter-tranference, baik terhadap ibu yang kehausan kasih dari suami, yang mentranfer kebutuhan kasih itu padanya, atau terhadap seorang pemuda yang karena kebutuhan balas dendam pada orang tuanya telah mentranfer kebenciannya pada konselor, dsb.

Bagi hamba Tuhan (konselor) kebutuhan untuk melakukan counter- transference adalah kebutuhan yang sangat berbahaya yang akan menggagalkan pelayanan konselingnya. Hamba Tuhan harus menyadari bahwa dia bukan psikiater (dokter jiwa) ataupun psychoanalyst (yang memang terlatih untuk memakai gejala transference dan counter- transference untuk tujuan terapi), oleh sebab itu dia tidak boleh mencoba dengan sengaja melakukan counter-transference dan menstimulir gejala transference dari konsele untuk tujuan apa pun juga.

Karena tanggung jawab utama dari hamba Tuhan dalam menghadapi gejala transference ialah:

i. Mengenal secara benar gejala itu, dan tahu memakai role-nya yang penuh otoritas sebagai hamba Tuhan, untuk menolong konsele. (Howard J. Clinebell, “Mental Health Through Christian Community”, New York, Abingdon Press 1965, p. 180).

ii. Menyadarkan konsele akan apa yang sedang terjadi pada dirinya, dan menyadari unsur-unsur yang tidak realistis yang mempengaruhi perasaan dan tingkah lakunya pada saat itu. (Kathleen Heasman, An Introductioin to Pastoral Counseling, London Constable 1959, pp. 59-60).

iii. Menolong konsele untuk menemukan identitasnya sebagai orang percaya dalam tanggung jawabnya pada Tuhan dan mendorong dia untuk mengambil keputusan etis yang rasional (James E. Davison “On Transference”, Journal of Pastoral Psychology, April 1971, p. 26)

KEDUA, ialah kebutuhan untuk menikmati simbol Allah yang ada padanya.

Ada banyak hamba Tuhan yang tanpa sadar telah menyalahgunakan simbol Allah yang ada padanya untuk kepentingannya sendiri. Gejala ini disebut oleh Ernest Jones sebagai “The God Complex”, “yang patut mendapat perhatian ialah”; ternyata kebutuhan yang merugikan ini sering kali bukan hanya sekedar ekspresi dari kebutuhan manusiawi pada umumnya (kebutuhan akan pujian dan penghargaan), tetapi kebutuhan tidak sehat dari kepribadian yang sakit yang sering kali disebut dengan istilah ‘narcissism’.

Menurut psyshoanalyst yang kenamaan Otto Kernberg, ‘narcissism’ sebenarnya bukan ‘self-love’ (mengasihi diri sendiri) melainkan ‘self-hatred’ (membenci diri sendiri), yaitu ekspresi yang unik dari sikap membenci diri sendiri. Oleh karena itu seorang yang menderita ‘pathological narcissism’ selalu merasa tidak mampu hidup tanpa pujian dan kekaguman dari orang-orang lain. (“Why Some People Can’t Love”, Otto Kernberg, interiewed by L. Wolfe, Psychology Today, June 1978, p. 55)

Seorang ‘pathological narcissism’ sangat peka terhadap kekurangan dan cacat cela yang ada pada dirinya sendiri. Tetapi sayang sekali kepekaan itu tidak mendorong dia untuk menghadapi realitas yang ada dan mencoba memperbaikinya, melainkan justru mendorong dia untuk melupakan kelemahan dan cacat cela yang ada pada dirinya sendiri.

Dan celakanya, Andre Bustanoby dalam risetnya menemukan bahwa banyak sekali orang Kristen yang memilih profesi hamba Tuhan atau pendeta justru oleh karena kecenderungan pada pathological narcissism yang tidak disadari dalam dirinya sendiri. Di mana mereka melihat bahwa melalui profesi ini, mereka bisa melampiaskan kebutuhan narcissism itu secara tersembunyi.

Sebagai konselor hamba Tuhan harus menyadari apakah dalam pelayanan konseling itu ia punya kebutuhan untuk justru menikmati simbol Allah yang ada padanya. Apakah kecenderungannya untuk selalu menyatakan firman Allah (“Thus saith the Lord”) dengan mengutip ayat-ayat Alkitab dan memaksakan nasihat-nasehat dan resep-resepnya yang manjur justru ada padanya oleh karena kepribadian narcissistic- nya. Apakah pelayanan konselingnya (yang biasanya penuh kasih itu) betul-betul lahir dari suatu kepribadian yang sudah diperbaharui oleh Roh Kudus atau oleh karena ketakutannya kalau dianggap sebagai konselor yang tidak becus dan terbatas kemampuannya. Seperti yang dikatakan oleh Shirley Sugerman, “In order to avoid falling ill, he must begin to show love to others” (“Sin and Madness, Studies in Narcissism”, Philadelpia Westminster Press, 1976, p.130).

Otto Kernberg dengan tajam sekali menyingkapkan fakta yang sering dialami oleh seorang ‘narcissistic pastoral couselor’, yang pelayanannya sebenarnya dilakukan tanpa kasih. “…. then this relationship to them is exploitative and parasitic, although this maybe masked behind a surface which is very often engaging and attractive, he can very easily become restless and bored” (“Why Some People Can’t Love”, Psychology Today, June 1978, p.56).

 

HAMBA  TUHAN  SEBAGAI  KONSELOR

Kenapa Anda mau menjadi Konselor?

Manfaat apa yang diperoleh dalam menjadi konselor?

KETRAMPILAN  DASAR  YANG  HARUS  DIMILIKI  UNTUK  MENJADI KONSELOR

TUJUAN :

  • Memiliki motivasi dan skill dalam visitasi dan konseling.

CONSELING SKILL
I. UNDERSTANDING
II. RESPONDING


I. UNDERSTANDING

  • Understanding terjadi jika konselor mengosongkan diri dari
    perspektif pribadi dan masuk dalam perspektif konseli.
  • Understanding terjadi jika konselor mengizinkan klien bicara
    sebebas-bebasnya

Arti Mengosongkan Diri
* Mengosongkan diri dari prasangka kemutlakan kebenaran sendiri
(Mis : Bu, bercerai itu dosa, kenapa Ibu lakukan ?….
Dik, nyontek itu dosa… !
)
Fanatisme Sempit
* Fanatisme sempit akan merusak konseling. Misal: Wah, Kamu kurang
doa, jadi masalahmu nggak selesai ,…

Wujud Mengosongkan Diri
* Menahan diri bicara pada waktu yang tepat untuk menyatakan
kebenaran. (Mendengar 1-2 Jam).
Bila Understanding terjadi, maka konseli akan percaya kepada
konselornya (TRUST).


UNSUR-UNSUR UNDERSTANDING

  1. EMPATHY
  2. ACCEPTANCE
  3. LISTENING

1. EMPATHY

  • Sikap konselor bersedia menempatkan diri pada tempat konseli,
    merasakan apa yang dirasakan konseli, dan mengerti dengan pengertian
    konseli.
  • Adalah kemampuan peka terhadap orang lain dan kemampuan mengerti
    perspektif orang lain. Emphatela, “ikut merasakan.”
    Contoh: Beli sepatu sama tapi beda, ada ujung paku.


2. ACCEPTANCE

  • Kesediaan konselor menerima konseli apa adanya (bukan “ada apanya”).
  • Menempatkan hal negatif klien pada kehidupannya yang UTUH & UNIK (Mis. Klien minta cerai).
  • Jika konseli merasa diterima konselor, dia akan sangat TERBUKA dan siap menerima.
  • Hasilnya RAPPORT (hubungan baik).

3. LISTENING.

  • Dietrich Bonhoeffer:
    “Banyak orang mencari telinga orang Kristen. Namun sayang, orang
    Kristen justru berbicara pada saat mereka seharusnya mendengar.
    “Mereka yang tidak mendengar saudaranya sesungguhnya dia juga
    seorang yang tidak mendengarkan Allah.”
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian baik yang “VERBAL” maupun yang
    “NONVERBAL”
  • VERBAL-LISAN, masalah yang dikatakan atau diucapkan dengan bahasa
    lisan. Pengungkapan isi hati melalui kata kata 7%
  • NON-VERRBAL-ISYARAT, mimik, tinggi rendah nada suara, gerak-gerik
    tangan, atau kening, wajah, keringat, dll. 55%
  • PARALINGUISTIC: Berarti bahasa yang dipakai, istilah, tekanan suara. 38%

DICIPLINED LISTENING:

  • Lebih banyak mendengar (2/3 atau 3/4 sesi).
  • “Hendaklah kamu lambat berkata-kata dan cepat mendengar” (Yak.1:19).

YANG KITA DENGARKAN:

  • Pengalamannya (what happens to them).
  • Permasalahannya
  • Tingkah lakunya (what they do or fail to do).
  • Perasaannya (the feelings and emotions).


HAMBATAN DALAM MENDENGARKAN

  • Membandingkan
  • Membaca pikiran
  • Mengulang-ulang
  • Menyaring
  • Mendakwa
  • Berimajinasi
  • Mengindentifikasi
  • Menasehati
  • Bertengkar
  • Membenarkan diri
  • Mengalihkan topik
  • Mendamaikan

II. RESPONDING
* Memberi tanggapan yang membangun

  1. KEHANGATAN = TIDAK MENGHAKIMI – YOH. 4
  2. SUPPORT (DUKUNGAN) = Membantu konseli melihat masalah dan dirinya
    dengan lebih JERNIH, memberi tissu, minum, dll.
  3. GENUINENESS = Menyambut hangat, menjaga rahasia, ikut hadir dalam
    pergumulan klien.
  4. STIMULATING = Konselor aktif bantu klien bergairah bicara dalam
    konseling, memancing ide-ide dan membantu kelancaran percakapan.

CONTOH RESPON
EKSPLORASI/ STIMULASI

  • Coba ceriterakan lebih lanjut mengenai hal ini.
  • Bagaimana reaksi suami/istri Anda?
  • Kemudian …?
  • Saya kurang jelas ….

Understanding:

  • Agaknya persoalan ini sangat memberatkan Anda.
  • Dengan kata lain, Anda merasa….
  • Saya dapat merasakan pergumulan Anda….

Supportif:

  • Memang setiap orang akan merasakan hal yang sama jika diperlakukan demikian.
  • Tuhan pasti mempunyai maksud tertentu ….
  • Tentunya hal ini akan bertambah baik jika ….

Interpretatif:

  • Sebenarnya apa yang terjadi adalah ….
  • Apakah hal ini membuat Anda merasa bersalah?
  • Rasanya Anda sangat bergantung pada ….
  • Apakah ini yang Anda ingin katakan? ….

Evaluatif:

  • Anda sangat bijaksana.
  • Ide yang baik.
  • Alkitab mengatakan, itu dosa!
  • Saya kira itu tidak akan menolong.
  • Anda harus mencoba jalan yang lain.

Action:

  • Saya anjurkan Anda …
  • Mengapa Anda tidak ….
  • Jika Anda kembali minggu depan ….
  • Anda seharusnya

Alternatif Solusi

  • Selalu Terbuka. dengan pilihan Klien (Jangan hakimi).
  • Misal: Pak, saya tak bisa lagi bertahan dengan suami saya.
  • Respons: O ya…? Apakah sudah memikirkan konsekuensinya pilihan Ibu …?

Kasus Divorce

  • Ajak Klien memikirkan 3-4 alternatif yang bisa dipertimbangkan.
  • Bertahan, latihan merubah diri menjadi istri yang lebih dapat
    melayani suami (Konseling pribadi)

Alternatif Solusi

  • Bertahan di rumah dengan komuikasi yang sangat minimal.
  • Berpisah sementara, mencari tempat aman untuk memulihkan diri.

BUAT TABEL
* Ajak Klien membuat tabel, plus – minus setiap pilihan. Ajar dia yang memikirkan dan mengatakan sendiri.

OKE Bu, kalau Ibu memilih untuk bercerai. Mari kita pertimbangkan bersama apa yang akan Ibu alami:

1.      Anak-anak ikut siapa? Kalau ikut Bapak?

2.      Bagaimana status Ibu sebagai janda.

3.      Bagaimana keluarga besar lbu?

4.      Sanggupkah Ibu urus anak-anak sendiri ?

5.      Bagaimana dengan ekonomi Ibu pasca divorce?

6.      Dll.

SYARAT & PERLENGKAPAN KONSELOR

Syarat Konselor:

  1. Sangat tertarik dengan manusia, sehingga selalu mengamati dan memikirkannya.
  2. Punya keinginan kuat melengkapi diri dengan membaca, haus belajar dan punya teachable spirit.
  3. Memiliki belas kasih dan kepedulian serta air mata untuk mereka yang menderita.
  4. Punya skill listening, emphaty, understanding, & acceptance.
  5. Stabil dalam emosi:

1.      Tidak hanyut melakukan transference atau counterconference.

2.      Berempati, bukan simpati.

3.      Tidak narcissistic.

4.      Bisa memelihara confidentiality.

5.      Tidak berjiwa judgemental & fundamentalistic.

  1. Bisa dan suka bekerja sama dengan rekan-rekan yang lain (referrals).
  2. Kita adalah individu yang sadar untuk tidak playing god (dengan merasa diri sakti dan memakai jalan pintas doa-doa kesembuhan).
  3. Dapat membedakan antara panggilan dan tugas pemberita firman dengan konselor (tidak berkhotbah pada client). Tidak menggunakan doa dan pembacaan Alkitab untuk memanipulir klien.
  4. Mampu membedakan antara reaksi (keluhan subjektif) klien. dengan
    persoalan client yang sesungguhnya), supaya klien dapat melihat,
    menafsir dan bereaksi dengan benar, dan tidak terjebak dalam
    phenomena yang menjadi keluhan client.
  5. Memiliki ketajaman dan kemantapan dalam mendiagnosa persoalan
    client. Untuk itu konselor harus belajar psychology (introduksi,
    developmental, personality, psikologi abnormal, dll), serta
    mempunyai konsep teologi yang sehat.

 

 

FUNGSI-FUNGSI PELAYANAN PASTORAL

 

Para teolog pastoral umumnya menyetujui fungsi-fungsi pelayanan pastoral yang dibubuhkan oleh Seward Hiltner serta Clebsch & Jaekle. Hiltner merumuskan fungsi pastoral dalam empat hal : healing (menyembuhkan), menopang (sustaining), menuntun (guiding), dan reconciliation (mendamaikan). Sedangkan Clebsch & Jaekle menambahkan fungsi menghibur (comforting) ke dalam pelayanan pastoral. Kelima butir ini digunakan bersama baik oleh teologi pastoral maupun konseling. Sebagai contoh, fungsi healing, sustaining, dan guiding dijumpai dalam kisah orang Samaria yang murah hati, ketika ia membalut luka orang yang dirampok maka ia sedang melakukan fungsi menyembuhkan ; ia menyiramnya dengan minyak dan anggur berarti ia melakukan fungsi sustaining; ketika ia menaikkan ke atas keledai  dan membawanya ke tempat penginapan, maka ia sedang melakukan fungsi guiding.

 

1.      Healing (menyembuhkan)

Healing means become whole. Pengertian tersebut tidak dapat diterapkan ke dalam sesuatu atau proses di bawah level organik. Penyembuhan dipahami sebagai proses merestorasi keseluruhan fungsional. Restorasi keseluruhan fungsi yang sudah tidak berfungsi. Penyembuhan sebagai suatu fungsi penyelamatan (rescue) orang-orang yang cacat (fisik maupun moodnya terganggu sejak awal), juga untuk sosiopatis (penyakit-penyakit sosial). Selain itu penyembuhan dilakukan terhadap orang yang mengalami distorsi yang memerlukan invasi seorang penolong. Abineno menambahkan bahwa fungsi penyembuhan yang dimaksud adalah menyembuhkan manusia seutuhnya, manusia sebagai suatu totalitas yang dalam pengertian pastoral ialah melayani sebegitu rupa  sehingga ia, baik fisik, maupun secara psikis dapat berfungsi lagi dengan baik dalam hidupnya.

Hiltner lebih jauh menegaskan bahwa proses penyembuhan juga mencakup penyembuhan jiwa (spirit) yakni pemulihan hubungan manusia dengan dirinya, dengan persekutuan, dan dengan Tuhan di dalam Kristus Yesus.

Selanjutnya Clebsch & Jaekle mengatakan bahwa fungsi penyembuhan sebagai unsur penting pemeliharaan jiwa–jiwa (cure of souls), dengan cara merestorasi orang yang mengalami kekacauan (impairment) kepada keutuhannya (Maz 103 : 13-16).

Sepanjang sejarah fungsi penyembuhan dilakukan dengan bermacam-macam cara, instrument, dan metode seperti :

a.       Pengurapan (anointing). Pada abad-abad permulaan hadirnya gereja, pengurapan dengan minyak merupakan salah satu metode yang sangat popular. Minyak dikuduskan dalam kebaktian oleh bishop ataupun seorang pelayan karismatik (yang memiliki karunia), imam, maupun kaum awam; kemudian orang yang sakit membawa pulang minyak itu untuk meminyaki dirinya sendiri. Agaknya ini bertalian dengan apa yang dinjurkan dalam Yak. 5 : 14-15. Pada abad kesembilan, kebiasaan mengurapi dengan minyak dalam penyembuhan orang sakit mengalami perubahan yang fundamental di dunia Barat. Pengurapan digunakan secara ekstrim; khususnya sebagai persiapan bagi orang yang akan meninggal dunia (pengurapan terakhir dalam Khatolik).

b.      Orang orang suci dan benda-benda keramat (the saints and relics). Pelayanan kesembuhan sebagai aspek yang menarik dilakukan melalui kontak dengan “sesuatu yang dianggap keramat/suci” ; terutama yang berhubungan dengan Bunda Maria atau Tuhan Yesus, seperti : kepingan tulang, rambut, pakaian, serpihan kayu salib, susu yang konon berasal dari Bunda Maria. Semua itu dianggap memiliki kuasa yang bernilai terapi. Acapkali dengan menggunakan salib atau tanda salib dalam proses penyembuhan.

c.       Penyembuh-penyembuh karismatik (Charismatic healers). Pelayanan kesembuhan yang dilakukan khusus oleh orang-orang karismatik. Eduard The Confessor (1161 M), dikenal oleh kalangan gereja oleh karena kesalehan dan mujizat-mujizat kesembuhan yang diadakannya dengan cara penumpangan tangan. Setelah reformasi, penyembuhan yang dilakukan oleh kalangan gereja karismatik muncul sebagai kuasa yang khusus dimiliki oleh para pelayan maupun kaum awam; baik dikalangan Protestan maupun Khatolik.

d.      Pengusiran setan (exorcism). Salah satu aspek dramatis dalam penyembuhan pastoral adalah pengusiran setan (exorcism), yakni dengan menggunakan kata-kata atau benda-benda suci. Meskipun acapkali agak berbau mistis rohani. Hal ini hendak mengingatkan kita pada  pelayanan Tuhan Yesus dalam Injil; serta eksorsisme yang kemudian dilakukan oleh murid-murid dalam pelayanan mereka.

e.       Obat-obatan yang berdaya magis (magico-medicine). Umat Kristen abad-abad permulaan hingga abad pertengahan percaya bahwa baik sakit mental (mental illness) maupun sakit fisik disebabkan oleh roh-roh jahat. Karena itu penyembuhan dilakukan dengan bermacam-macam doa, mantera, kegiatan-kegiatan ritual, serta minuman yang telah dikuduskan (transsubstansiasi).

f.       Penyembuhan pastoral dewasa ini. Sejak abad pertengahan gereja Khatolik menggunakan sakramen untuk menyalurkan berkat ilahi kekuatan fisik sebagaimana penyelamatan jiwa. Sedangkan pada zaman modern fungsi penyembuhan dilakukan oleh para pastor dengan beragam cara, seperti : spiritual healing, faith healing; kesembuhan ilahi yang diadakan di gereja, penumpangan tangan, eksorsisme, dan doa. Meskipun cara-cara ini masih belum mendapat tempat yang sentral dalam pemahaman penyembuhan di dunia Barat.

 

2.      Sustaining (menopang)

Merupakan salah satu aspek dari perspektif penggembalaan yang menekankan “standing by” (pendampingan). Penopangan berkaitan dengan segala situasi yang tak dapat berubah, atau paling sedikit tidak bias diubah untuk saat ini. Dalam hal ini sustaining berasal dari kata sustenance, yang artinya “menjaga agar tetap hidup”. Sustaining merupakan pelayanan yang dilakukan dengan cara memberi dukungan (support) dan dorongan (encouragement) melalui pendampingan ketika sesuatu telah hancur atau tidak berfungsi sehingga tidak memadai terhadap seluruh restorasi situasional. Pelayanan pendampingan dominan dalam dua macam situasi : (1) ketika orang mengalami shock dan kehilangan : berpisah dengan orang yang sangat dikasihi; (2) pada situasi kerusakan yang tak dapat diubah (irreversible) atau mengalami degenerasi : penyakit kanker yang tak bisa dioperasi. Dalam hal ini pelayanan dilakukan untuk menghibur (comfort) serta mendukungnya dalam situasi yang dihadapi. Selain itu pendampingan direfleksikan dengan memberikan harapan yang sifatnya eskatologis sebagai konsekuensi hidup orang Kristen.

Clebsch & Jaekle menandaskan, tradisi Kristen sejak abad-abad permulaan pelayanan pendampingan pastoral dilakukan untuk menolong orang-orang yang mengalami masalah karena dibanjiri oleh perasaan gagal. Pendampingan pastoral dilakukan dengan cara :

a.       Perservasi (preservation) ; yakni cara melakukan pemeliharaan dengan ucapan-ucapan yang disampaikan agar situasi buruk orang yang mengalami masalah atau kegagalan diupayakan pada tingkat yang sekecil mungkin.

b.      Konsolasi (consolation) : memberikan penghiburan agar masalah aktual yang dihadapinya tidak menghalangi kesempatan untukmenerima pertolongan Tuhan menjadi kosong sama sekali.

c.       Konsolidasi (consolidation) : menyediakan sumber kekuatan bagi penderita untuk membangun suatu kerangka kerja (platform) yang memungkinkannya dapat menghadapi , atau jika mungkin mengatasi persoalannya sendiri.

d.      Penebusan (redemption) : menguatkan orang yang mengalami masalah dengan mengingatkan pada pengampunan dari Tuhan serta mempersiapkan dia untuk meraih kembali apa yang pernah dialaminya, dengan maksud agar ia mampu menghadapi  sesuatu yang mugkin tidak dapat diperbaiki lagi. Dengan kata lain fungsi pastoral tersebut dilakukan untuk menolong orang yang terluka agar memperoleh kesempatan dari Tuhan yang sanggup merestorasi keadaannya.

 

3.      Guiding (menuntun) merupakan pertolongan yang diberikan kepada seseorang agar ia mengambil keputusan untuk meyakinkan dari sejumlah alternatif yang nampaknya akan menguatkan jiwanya untuk masa kini dan masa depan. Dengan kata lain fungsi menuntun adalah pelayanan terhadap jiwa-jiwa dengan mempertimbangkan beberapa hikmat (wisdom) yang harus dilakukan oleh seseorang ketika ia diperhadapkan dengan kesulitan untuk memilih di antara bermacam-macam pemikiran dan tindakan. Tuntunan yang diberikan dapat dilakukan melalui dua cara : (1) eductive guidance; berusaha menarik keluar pengalaman, sistem nilai, kriteria dan sumber-sumber dari seseorang agar ia mampu mengambil keputusan; cara ini umumnya dikenal dengan istilah “client-centered therapy”; (2) Inductive guidance : menuntun seseorang untuk mengadopsi satu perangkat prioritas sistem nilai dan kriteria yang akan diputuskan.

Fungsi menuntun dilakukan dengan cara memberi petunjuk (advice giving), yakni pelayanan yang sifatnya pertolongan dan suportif, bila sesuatu nampaknya paling baik dalam pandangan konselor yang sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh konseli. Hiltner menegaskan bahwa fungsi guiding dalam teologi pastoral berarti upaya melindungi jemaat atau gereja dengan cara memperingatkan mengenai disiplin dan moralitas. Dalam perspektif penggembalaan, guiding tercakup dalam pengudusan.

 

4.      Reconciling (mendamaikan)

Fungsi ini merupakan tambahan terhadap ketiga fungsi yang ditelorkan oleh Hiltner. Clebsch & Jaekle mengatakan, istilah “pendamaian” melukiskan pendamaian Allah dengan dunia melalui Yesus Kristus (2 Korintus 5 : 19). Pendamaian meliputi pengampunan dan disiplin, yang dalam praktek saling berkaitan. Pengakuan dosa dan pertobatan merupakan syarat awal pendamaian.

Dalam tradisi Khatolik pendamaian berarti memelihara jemaat agar tidak bercacat cela; tetapi lebih bersifat hukuman. Tendensi tersebut dengan tegas ditekankan bila seseorang melakukan suatu kesalahan yang tidak bisa ditolerir, maka ia dihukum dengan denda sejumlah uang. Sedangkan di kalangan Protestan, pendamaian sebagai suatu bentuk disiplin terhadap orang yang telah dideskreditkan karena suatu kesalahan. Kesalahan mulai terjadi dalam tradisi pendamaian dengan cara penerimaan pengampunan, di mana para pelayan gereja mengembangkannya secara professional-praktis yang dalam perkembangan selanjutnya menumbuhkan model mendengarkan pengakuan dosa sebagai suatu bentuk hukuman. Pada waktu gereja Katolik (1215) menetapkan syarat ketaatan pengakuan dosa kepada para imam paling sedikit sekali setahun sekali, maka tradisi ini menjadi rahasia absolute yang amat kuat.

 

 

PETA PELAYANAN PASTORAL

 

I.            Peta Kepuasan

A.    Merasa Puas Melayani Sebagai Gembala

Dewasa ini masih ada ribuan pendeta yang berfungsi kurang lebih dengan cara tradisional dan mendapat banyak kepuasan kerja. Mereka menemukan bahwa pelayanan itu beraneka ragam, bermanfaat dan memuaskan ketika mereka bertambah dekat dengan umat yang mereka layani; dan melihat kehidupan mereka diubah oleh kuasa Allah. Mereka yakin bahwa Allah telah memanggil mereka ke dalam pelayanan dan mereka tidak akan bertukar tempat dengan orang lain.

·         Mereka merasa puas dengan tugas-tugas penggembalaan yang rutin dan menemukan begitu banyak peluang untuk melayani melalui keluarga besar gereja. Mereka senang memimpin ibadah dan berkhotbah secara tetap, dan bersukacita ketika terjadi pertumbuhan walaupun tidak luar biasa.

·         Barangkali sebagian dari kepuasan itu bersumber dari fakta bahwa mereka tidak memiliki ambisi yang besar.

·         Mereka benar-benar puas walaupun menyadari iklim pelayanan yang tidak ramah.

·         Mereka merasa puas dan mengabaikan fakta kepercayaan-kepercayaan sekuler, moralitas yang secara statistik merosot, dan masyarakat yang terpecah-pecah dan jumlah jemaat makin merosot/

·         Mereka merasa puas karena dicintai jemaat, mendapatkan kehangatan dari jemaat dan sekedar berlindung dari terpaan angin kencang dari luar. Dalam cara ini sebenarnya fungsi mereka sebagai gembala sudah tidak ada lagi.

 

B.     Ketidakpuasan Melayani Sebagai Gembala

·         Mereka mengeluh bahwa mereka terisolasi dan frustrasi. Mereka merasa tidak dipedulikan oleh atasan, jajaran kepemimpinan dan juga tidak dikasihi oleh bawahan mereka di gereja.

·         Para gembala tidak mau menyandarkan diri pada atasan mereka sebagai orang-orang yang kurang puas, jangan sampai akan menjadi halangan bagi prospek karier mereka.

·         Sementara itu anggota jemaat berpikir bahwa penahbisan telah menjadikan seorang gembala mandiri secara rohani dan emosional. Mereka tidak pernah bergaul cukup dekat dengan dia untuk mengetahui bahwa keadaan yang sebenarnya tidak demikian. Sang gembala berjuang keras untuk hidup sesuai dengan gambaran jemaatnya dan berusaha memenuhi harapan mereka. Akibatnya, ia sering terperangkap dan mengambil sikap bertahan serta menolak pertolongan yang ditawarkan, karena ia akan menganggap dirinya gagal kalau menerima pertolongan itu.

Depresi yang merupakan kemarahan terpendam, ditimpakan kepada dirinya sendiri. Ia berusaha untuk terus maju, sementara dirinya kurang makan. Akibatnya ia kurang makanan rohani yang memuaskan jemaat. Apapun otoritas rohani yang pernah dimilikinya, karena itu ia berhenti berfungsi sebagai seorang gembala.

 

II.         Peta Gaya Kepemimpinan

Menurut Dr. Montagu Barker, ada tiga kategori pola kepemimpinan dalam pelayanan :

(1)   Pendeta Sebagai Pemimpin

-          Bergaya sebagai seorang eksekutif dalam bidang usaha.

-          Menjalankan gerejanya dalam cara yang sangat efisien seperti halnya organisasi yang dikelola dengan baik, rapat-rapat kepemimpinan menjadi seperti rapat dewan direksi, dan satu-satunya struktur penunjang yang dimilikinya adalah rekan-rekan seprofesinya.

-          Struktur manajemen, arus informasi serta kampanye dilakukan dengan profesionalisme dan keahlian.

-          Pendeta itu sendiri ditopang oleh keberhasilannya dan mendapat kepuasan yang luar biasa.

-          Namun demikian, gaya pelayanan ini meminta korban dari anak dan istri, sebab mereka akan menarik diri sebagai orang yang terasing dari pelayanan suaminya.

-          Faktor stress paling menonjol dari gaya ini adalah jemaat jadi bergantung kepadanya. Anggota bergantung kepada perpindahan satu proyek ke proyek lainnya yang dianggap sukses.

-          Hubungan antar jemaat dangkal, sebab tidak terjadi persekutuan yang sesungguhnya.

-          Dalam kenyataan, gereja semacam ini tidak mandiri dan saling menunjang.

 

(2)   Pendeta Sebagai Pelayan

a.       Berpusat pada orang.

b.      Ia sangat berpengaruh, perhatiannya seolah-olah tak ada habisnya.

c.       Ia mungkin tidak memberi cukup waktu untuk mempersiapkan khotbah sehingga menyampaikan sesuatu yang belum dipikirkan matang, tetapi jemaat mengabaikan hal itu karena kepemimpinannya sangat baik.

d.      Batuan dari rekan-rekannya cukup baik karena ia dikasihi.

e.       Ia mungkin menderita karena tidak mampu memenuhi janji dan harapan banyak orang.

f.       Keluarganya akan menderita karena kesediaan melayaninya yang sering berlebihan.

g.      Gembala tersebut akan menjadi baby sister bagi gerejanya, karena mereka sangat bergantung kepada pendetanya.

h.      Orang yang paling menderita adalah penggantinya, karena ia tidak dapat memenuhi standar yang telah ditetapkannya.

 

(3)   Pendeta yang merupakan anggota

a.       Gaya ini adalah pola Alkitab.

b.      Korban pelayanan pastoral akan meningkat karena pendeta menolak menempatkan diri dalam kategori khusus.

c.       Ketika terjadi krisis mereka tidak memiliki gembala yang dapat menanggulanginya.

d.      Hanya jika pendeta menolak ditinggikan dan menghisapkan diri ke dalam anggota tubuh Kristus, maka tindakan itu alkitabiah.

e.       Sang pendeta harus menjalin persahabatan dilandasi komitmen dengan orang lain dalam jemaatnya.

f.       Pendeta demikian membutuhkan beberapa orang untuk mendukungnya, sama seperti Tuhan Yesus didukung oleh murid-murid-Nya.

 

III.     Peta Struktural

 

1.      Tradisional

Pendeta sebagai pelayan institusional atau kelembagaan menekankan dengan tegas perbedaan pendeta dengan kaum awam/jemaat. Pendeta haruslah lulusan sekolah Teologia (akademis). Setelah ditahbiskan mereka semakin dipisahkan dari jemaat karena mereka melakukan tugas-tugas yang tidak biasanya dilakuakn oleh kaum awam. Menganggap serius pengetahuan dan ketrampilan (skill) jika pelayanan hendak dilakukan dengan baik. Pelayanan menjadi prioritas karena kebutuhan pastor dicukupkan. Ketertiban gereja dipelihara dengan baik (dari segi organisatoris). Secara teoritis pelayanan institusional menciptakan suatu struktur teman sejawat/rekan kerja yang saling menunjang. Persoalan yang muncul : a) Siapa yang menyelenggarakan sakramen bila tidak ada pendeta; (b) Penahbisan menurut jenjang.

 

2.      Kharismatik

Bentuk pelayanan kharismatik bukanlah mencapai standar akademis tertentu, tetapi kemampuan untuk menggunakan satu atau lebih karunia rohani. Para pelayan muncul dari dalam jemaat dan melayani anggotanya. Tenaga-tenaga potensial lulusan sekolah Teologia ditargetkan untuk dilatih dalam persekutuan lokal. Pelayanan demikian bebas dari hambatan legal-kelembagaan; pelayanan menjadi fleksibel dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan berdasarkan situasi yang berubah dengan cepat. Pelayanan berkembang dengan cepat dengan melibatkan banyak orang; serta memberikan peluang kepada orang-orang untuk bertumbuh dan mandiri.

Secara paradoks, gaya pelayanan demikian seringkali justru menimbulkan otoritas baru. Dalam konteks kharismatik, orang-orang sungguh ingin mengikuti arah yang diambil pemimpin dan jauh lebih banyak kemajuan yang mungkin dicapai. Tidak adanya pendidikan teologis dan wawasan yang lebih luas dapat menimbulkan malapetaka. Orang yang tidak mengetahui sejarah akan cenderung mengulangi kesalahan; orang yang tidak memiliki pengetahuan teologi akan lebih mudah cenderung mengulangi ajaran-ajaran sesat. Tidak ada pemahaman yang luas mengenai Alkitab dan sejarah sering mengakibatkan pelayanan pastoral yang tragis. Tekanan pada pengalaman perlu diimbangi dengan perhatian kepada kebenaran. Pemisahan antara Roh dan Firman akan selalu membahayakan.

Sebagian sejarah kemenangan harus disambut secara skeptis. Sejarah kemenangan tidak boleh diabaikan dan pelajaran perlu diperhatikan. Pemujaan anti-intelektualisme tidak menghormati Allah sama seperti intelektualisme. Terlalu mudah untuk membangun gerakan yang menggairahkan tetapi kadang-kadang dangkal. Kerap kali merupakan faktor koreksi terhadap struktur tradisional. Perlu diadakan koreksi terhadap sistem (organisasi maupun pengajaran).

3.      Bentuk Moderat

Paulus menolak gagasan pemisahan antara karunia-karunia kharismatik dan pelayanan institusional. Perlu dua aspek itu saling melengkapi, mengisi jika pelayanan ingin didewasakan. Bentuk pelayanan kharismatik perlu memperhatikan dengan cermat masalah-masalah yang dimunculkan bentuk-bentuk pelayanan institusional, demikian pula sebaliknya.

 

IV.     Peta Fungsional

1.      Pengajar/guru (didaskalos)

John Stott mengatakan bahwa fungsi utama seorang gembala adalah mengajar, memberi makan, dan menggembalakan domba-dombanya. Tekanan ini berasal dari zaman reformasi dan tetap merupakan orientasi utama kaum injili. Tekanan ini telah mendikte arsitektur gereja-gereja dengan cara memastikan bahwa mimbar sebagai pusat, dan ruang-ruang ibadah menyerupai ruang kuliah. Gaya ibadah juga dikuasai olehnya karena membenarkan pembatasan pelayanan kepada satu orang yang mengajar dengan cara monolog. Metode-metode seperti studi mandiri dan berkelompok dipandang dengan agak curiga. Dalam bentuk yang terburuk, metode ini merosot menjadi sekedar pemberian informasi yang mandul dan bersifat rasional. Pendeta begitu diagungkan sehingga tercipta suatu jurang pemisah yang tidak sehat antara dirinya dengan jemaat.

 

2.      Imam

Walaupun kaum injili menghindari orientasi keimaman, tetapi ciri khas pelayanan ini sangat sesuai dengan kepentingan mereka. Orientasi keimaman banyak dipengaruhi oleh Perjanjian Lama. Unsur-unsur keselamatan diperoleh melalui sakramen, upacara dan melalui pengorbanan Yesus berulangkali tidak relevan dengan berita Perjanjian Baru. Sang imam menjadi pelaku ritus-ritus sehingga ia terhalang dalam melakukan tugas-tugas pastoralnya.

 

3.      Gembala

Secara tradisional, gembala merupakan pembimbing rohani, bukan saja dalam arahan moral, dan mengarahkan kepada pengampunan dari Allah, tetapi juga dengan berjalan bersama umat menempuh berbagai krisis dan penderitaan hidup. Tujuan gembala adalah memimpin domba-dombanya ke padang yang berumput hijau, tetapi jalan ke sana mungkin melewati lembah yang dingin dan gelap dimana gembalapun harus hadir di situ. Jemaat perlu dibangun dan dikuatkan dalam Kristus, walaupun kehidupan mereka relatif bebas dari persoalan. Gembala mesti menolak kecenderungan meninggalkan sumber daya rohani demi pendekatan psikologis yang kelihatan lebih menarik dan menjadi trend.

 

4.      Nabi

Pelayanan ini dapat berbentuk penginjilan, meskipun mereka yang mendukung pelayanan ini lebih memperhatikan peranan kenabian daripada penginjilan. Argumentasi teologis untuk suatu bentuk pelayanan kenabian lebih meyakinkan daripada argumentasi sosiologis. Gembala yang melaksanakan pelayanan di luar gereja bertindak sebagai wakil Allah, dan harus menyadari bahwa ia sedang berjuang dalam suatu peperangan rohani. Jadi pelayanan kenabian berorientasi pada apa yang telah terjadi dengan nabi-nabi Perjanjian Lama. Pelayanannya bersifat ke masa-depanan (foretells), berisi nubuatan, teguran, penghukuman, penghakiman serta pemulihan.

 

 

pastoral-2 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s